Review Buku Disforia Inersia, gimana sih isinya?



/
Sebab bahagia hanya kesedihan yang tinggal menunggu waktu
...
Buku berjudul “Disforia inersia” ini berisi se-kumpulan puisi dan se-upil cerpen karya Wira Nagara, seseorang yang bertangan puisi dan bermulut komedi. Buku ini Ku beli secara online, yang secara ga sengaja ternyata ada tanda tangan Si Penulis didalamnya--- sumpah Aku senang.


Buku mendarat di pelukan Aku tanggal 5 April lalu. Aku kandaskan isinya dalam sehari, sabtu malam Aku coba baca keras-keras saat rumah lagi kosong-kosongnya. Biasa, ngehindarin netijen, ehehhehe. Dan ternyata guys, ini adalah buku kedua si Wira, loh. Ku pikir ini buku pertama, secara ya, kalau kalian stalk Ig-nya Wira, buku ini bentuknya kaya pasangan gitu dan Disforia Inersia ini dibagian sebelah kiri, terus yang disebelahnya Distilasi Alkena, gitu. Wait, kalian paham ga sih? Yaudahlah ya, paham-pahamin aja, ehehe.

Diawal buku Aku udah disuguhin kalimat pengantar yang bikin mata membelalak gitu loh (lebay amet), iya asli. Kayanya ini buku pertama yang Aku baca dengan kalimat pengantar paling beda. Ini ku tunjukkan sedikit kalimat pengantarnya.



Noh gimana kan? Kalimat pengantarnya aja udah puitis banget gitu. Apalagi isi dan kutipannya yang super bala-bala itu. Dijamin buat yang punya penyakit hati paling kronis; gampang baper, menurut Aku jauh-jauh deh, daripada nanti kalian kejang-kejang pula, hati jadi gak karuan, otak jadi mikirin kapan pasangan datang supaya bisa diajak romantisan, berabe. Eh, tapi kalau Aku suruh kalian jauh-jauh nanti ga laku pula buku Si Wira ini. Ah, ribet banget! Gini aja deh, kuat-kuatin hati bacanya, sebagaimana kalian kuat menahan rindu, acikiwir...

//
Lalu hari berganti pagi, pesan-pesan itu tak berbalas lagi. Berkala rasa seperti biasa: Aku pengisi jeda,
Kau peremuk dada.
...

Singkatnya buku ini menceritakan kisah si Wira tentang patah hatinya. Tentang cinta dia yang gak berbalas dari jaman SMA sampai pada akhirnya dia memeluk harapan mati karena si do’i di pinang sama lain lelaki. Double kill! Tapi, di buku ini juga menceritakan beberapa kali dia menjalin hubungan sama perempuan, yang ujung-ujungnya sama, kandas.  Diceritakan dalam bentuk puisi yang bikin kita enjoy banget, memahami masalahnya tanpa bentuk narasi cerita, gitu.

Yang ngebuat aku jatuh cinta sama puisi Wira Nagara selain ngebahas soal cinta, dia juga make unsur-unsur bahasa lain dan bahasa ipa yang nambah pengetahuan juga. Dan Aku, sang anak SMK akuntansi harus mikir dua kali buat mahamin artinya. Nambah kerja pikiran, tapi ya... aku suka aja sih. Beberapa judul puisinya yaitu, Mielin morphin, Principia: Deformasi, Daring Ananta dan beberapa puisi lainnya. Namun, aku benar-benar jatuh cinta sama satu puisinya yang berjudul “Aritmia”. Kalian boleh cek di Youtube-nya Wira Nagara, dia ada bikin musikali puisi Aritmia ini, wajib tonton!

Diawal buku aku enjoy banget ngebaca kisah wira yang lagi galau-galaunya padahal saat itu dia lagi ikutan ajang SUCI5, 2015 (Stand Up Comedy Indonesia 5). Tapi berhenti di pertengahan buku, tepatnya dihalaman 66. Dikarenakan disitu ada puisi yang menceritakan, seorang lelaki yang berjuang, berusaha pdkt-in cewe, berusaha supaya bisa dianggap, perasaan terbalas, dan bisa dijadian, tapi berujung sai-sia kalau belum juga ada tanda-tanda kalau si cewenya ada ngebalas rasa suka juga. Nah ya, Aku punya pengalaman pribadi begitu sehingga Aku berhenti baca sesaat, terus marah dikit sih dalam hati, dan sumpah serapah gamau baca lagi. Tapi, karena penasaran dan udah keluarin uang buat beli, ya.. Akhirnya dibaca lagi deh, ehehhe. Dasar Cewek!!

Buku ini ditutup dengan puisi Disforia Inersia, sesuai dengan judul buku yang menceritakan udah saatnya hati yang udah patah buat bangkit lagi, buat belajar mencintai lagi, sekaligus ngeberi makna kepada kita semua bahwa kita berhak dicintai. Mau beberapa kali patah hati, cinta gak berbalas, kena php doang, atau hubungan yang menggantung tanpa kepastian. Tetap berujung, kita akan dicintain dengan ikhlas sama satu mahluk yang bakal disebut sebagai pasangan, cuman waktunya aja belum tepat.

Buku ini juga ngasih kutipan-kutipan bikin baper disetiap habis puisi gitu. Jadi sebelum ada ke halaman puisi berikutnya kita disuguhin sama kalimat kutipan. Ini satu kutipan yang bikin hati kejang-kejang.


Nah, begitu deh review dari aku soal buku Disforia Inersia, tertarik mau beli?


Terimakasih udah membaca guys, jangan lupa solat dan sholawat, sedekah dan murahkan senyumnya. Semoga kita selalu bahagia!
Salam Cinta !!

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mtk, Doi yang dinamis

Gagal Dewasa 2