Secangkir sajak malam ini



Rasanya sulit tuk melepas diri dari belenggu ini. Membentengi langkah tuk berlari. Memadamkan kobaran api sinergi. Menarik pikiran dan terikat oleh kebodohan. Beri aku tali! Tarik aku dari jeratan pesimisme ini. Tapi akhirnya ribuan motivasi masih belum mampu menembus nurani. Memutuskan tali dan menjatuhkan lebih dalam lagi.
Lagi,lagi,lagi. Tenggelam dalam kepahitan. Tenggelam pada putus asanya pikiran. Tenggelam dalam lelahnya untuk melanjutkan kehidupan. Sejenak mata ku terbuka, selalu ada harapan. Tapi senja segera terbenam di ufuk barat. Lagi dan terus berlari, tapi kembali mentari mengkhianati.
Aku bagai lilin dibibir pantai ini. Hidup untuk musnah dan diam untuk mati. Mencari frasa ditengah seluk beluknya kehidupan. Barangkali ada sela tuk melangkahn setidaknya untuk malam ini.
Pikiran bergulat pada rumitnya jalan takdir. Nyatanya, garis kehidupan sulit diajak kompromi, sukar dipahami, tak bisa naik banding apalagi dihindari. Kalimat mutiara berkata, biarkan itu mengalir seperti air. Biar berjalan dengan tenang mengikuti arusnya. Tapi, sampai kapan dipenghunjung jalan ini?
Hujan, sangat berisik. Tiap bulirnya yang terjun tampak berteriak, beradu dengan kilat dan terhempas ke bumi. Banyak yang membencinya, padahal ia membawa bekal ekosistem kehidupan. Ada pula yang sangat mencintainya, hingga lupa tuk mengingat bahwa hujan juga membawa penyakit. Ada pula yang biasa-biasa saja. Hujan tak mengapa tapi tetap harus dihindari.
Ribuan filosofi, masih belum bisa menjadi kalimat pengisi komitmen. Ribuan makna dicari, namun lagi belum bisa mengisi kosongnya lembaran buku ini. Lebih tenang hanya diam. Tidur dalam dan bermimpi atau sekedar meratapi kehidupan? Barangkali kau bisa menemukan jawabannya di lubuh hati mu.
256 kata
1 septermber 2017
23:23

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Disforia Inersia, gimana sih isinya?

Mtk, Doi yang dinamis

Gagal Dewasa 2